Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Minggu, 24 Oktober 2010

SESEORANG MENDOAKAN ORANG YANG MEMBERINYA MINUM AIR, SUSU ATAU SEJENISNYA

Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari al-Miqdad radiyallahu 'anhu dalam hadits panjangnya yang masyhur, ia mengatakan,


فَرَفَعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: اللّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِيْ، وَاسْقِ مَنْ سَقَانِيْ.

"... Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kepalanya ke langit seraya berdoa, 'Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan, dan berilah minum orang yang memberiku minum'."

Kami meriwayatkan dalam kitab Ibn as-Sunni, dari Amr bin al-Hamiq radiyallahu 'anhu,


أَنَّهُ سَقَى رَسُوْلَ الله صلى الله عليه و سلم لَبَنًا، فَقَالَ: اللّهُمَّ أَمْتِعْهُ بِشَبَابِهِ. فَمَرَّتْ عَلَيْهِ ثَمَانُوْنَ سَنَةً لَمْ يَرَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ.

"Bahwa ia memberi minum susu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau berdoa, 'Ya Allah, berilah kenikmatan kepadanya dengan masa mudanya.' Setelah berlalu delapan puluh tahun dari usianya, ia tidak melihat sehelai rambut putih pun (padanya)."

Kami meriwayatkan di dalamnya, dari Amr bin Akhthab radiyallahu 'anhu, ia mengatakan,


اِسْتَسْقَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم ، فَأَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فِي جُمْجُمَةٍ، وَفِيْهَا شَعْرَةٌ، فَأَخْرَجْتُهَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : اللّهُمَّ جَمِّلْهُ.

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meminta minum, lalu aku membawa air kepada beliau dalam bejana kayu, di dalamnya terdapat rambut, lalu aku mengeluarkannya, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berdoa, 'Ya Allah, baguskanlah ia'." Perawi mengatakan, "Aku melihatnya telah berusia 93 tahun, namun rambut dan jenggotnya tetap hitam."

Aku katakan, Jumjumah, dengan dua jim berdhammah yang di antara keduanya ada mim bersukun, yaitu bejana yang terbuat dari kayu. Bentuk pluralnya ialah jamajim. Dengannyalah disebut Dair al-Jamajim, yaitu tempat bertemunya Ibnu al-Asy'ats dengan al-Hajjaj di Irak; karena di sana ia bekerja membuat bejana dari kayu. Dikatakan (dalam riwayat lain), dinamakan demikian karena ia dibangun dari puing-puing korban pembu-nuhan; karena banyaknya orang yang dibunuh.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Mutiara Hikmah dari Imam Hasan Al Bashri

Kata mutiara 1

“Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.”

Kata mutiara 2

“Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Kata mutiara 3

Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.”

Kata mutiara 4

“Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”

Kata mutiara 5

Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.”

Kata mutiara 6

Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.”

Kata mutiara 7

“Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.”

Kata mutiara 8

Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.

Kata mutiara 9

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.”

Kata mutiara 10

“Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.”

Jumat, 17 September 2010

Penggugah Hati

01. JANGAN MENCARI-CARI MASALAH

إن كان بيتك من الزجاجة فلا ترم بيوت الناس بالهجارة

Bila rumahmu terbuat dari kaca maka jangan lempari rumah orang lain dengan batu

02. KESALAHAN YANG BESAR

إِن ُ كنتَ َ لا تَدرِي فَتِلكَ مُصِيبٌَة وَإِن ُ كنتَ تَدرِي َفاُلمصِيبَُة َأع َ ظمُ

Jika engkau tidak tahu maka ini musibah. Dan apabila engkau tahu maka musibahnya lebih parah

03. JANGAN MENGHINAKAN ULAMA AHLUS SUNNAH

واعلم رحمك الله أن لحوم العلماء مسمومة

Ketahuilah semoga engkau dirahmati Alloh, bahwa daging para ulama itu beracun
[Imam Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzibil Muftari. Melalui perantaraan al-Aqwaal hal. 2]

04. SABAR, JANGAN TERGESA-GESA

Sebagaimana ucapan penyair:

من استعجل الشَّيء قبل أوانه عوقب بحرمانه

Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.

الصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu.

05. PERUMPAMAAN HAWA NAFSU

النفس كالطفل إن تهمله شب على *** حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم

Hawa nafsu itu bagaikan anak kecil. Bila kau manjakan maka sampai besar ia akan terus senang menyusu dan bila kau hentikan maka akan berhenti.

06. AMBIL SETIAP KESEMPATAN YANG DATANG

Sebagaimana dikatakan oleh para salaf:

اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تُقَطِّعْهُ قَطَّعْكَ

Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak memutusnya (mengisinya) maka dia yang akan memutusmu (menghilangkan kesempatanmu).

‘Abdullah bin Al-Mu’taz berkata, -sebagaimana dalam kitab Al-Jami’ karya Al-Khathib – :

الفرصة سريعة الفوت بطيئة العودة

Kesempatan sangat cepat berlalu, dan sangat sulit untuk bisa kembali.

07. MALU UNTUK BERMAKSIAT KEPADA ALLAH

Dikatakan dalam sebuah syair,

Jika Rabbku berkata padaku.
Mengapa kau tidak merasa malu bermaksiat kepada-Ku.
Kau sembunyikan dosa dari makhluk-Ku.
Tapi dengan kemaksiatan kau menemui Aku.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Ibnul Mubarak rahimahullahu yang mengatakan:

رَأَيْتُ الذُّنُوبَ تُمِيْتُ الْقُلُوْبَ * وَقد يُوْرِثُ الذُّلَّ إِدْمَانُهَا
وَتَرْكُ الذُّنُوبِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ * وَخَيْرٌ لِنَفْسِكَ عِصْيَانُهَا
وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّيْنَ إِلاَّ الْمُلُوكُ * وَأَحْبَارُ سُوْءٍ وَرُهْبَانُهَا

Aku melihat dosa itu mematikan hati
terus menerus berbuat dosa mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa (sebab) hidupnya hati
menentangnya lebih baik bagi dirimu
Tiadalah yang merusak dien ini melainkan para raja
ulama jahat dan para pendetanya

Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku menjadi ulama akhirat yang cerdas. Dan jauhilah kedunguan orang-orang yang dangkal pikirannya, pendeknya akal ahli dunia yang bebal.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ
وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَاصِ

Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata, “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan
dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.” (Lihat Diwan Asy-Syafi’i (45), Al-Fawa`id Al-Bahiyyah (223), dan Syarh Tsulatsiyyat Al-Musnad (1/769).)

Sungguh benar ucapan seorang penyair:

وإذا الحبيب أتى بذنب واحد جاءت محاسنه بألف شفيع

Jika seorang tercinta (ahlut tauhid) melakukan satu dosa
kebaikannya datang dengan seribu syafa’at